Selasa, 09 April 2019

SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI JAWA PEDALAMAN

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Islam dan Budaya Jawa
Dosen Pengampu : Sri Suhandjati



Disusun oleh:
Asrobul Anam (1804046061)

TASAWUF DAN PSIKOTERAPI
FAKULTAS USHULUDDIN DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG
 2019



PENDAHULUAN
Latar Belakang
Islam merupakan agama yang yang rahmatal lil ‘alamiin yang bersifat adaptable umtuk bisa tumbuh dan berkembang di segala tempat dan bagaimanapun keadaannya. Proses masuknya agama Islam ke Indonesia bisa dikatakan berjalan dengan damai, walaupun pernah suatu ketika terjadi konflik yang keras pada masa Islamisasi Jawa..
Salah satu kebudayaan daerah yang cukup berpengaruh di Indonesia adalah kebudayaan Jawa, yang mana daerah Jawa ini sudah ada sejak zaman pra-sejarah. Masuknya Islam dalam dakwahnya para mubaligh dalam menyebarkan ajaran Islam menggunakan kebijakan khusus, yaitu tidak memkasakan kehendak kepada masyarakat dalam memeluk Islam, melainkan dengan cara memilih akulturasi budaya. Hubungan antara Islam dengan budaya Jawa dapat diibaratkan sebagai dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan, dikarenakan Islam yang berkembang di Jawa dipengaruhi oleh kultur atau budaya Jawa. Perpaduan antara keduanya melahirkan ciri yang khas sebagai budaya yang sinkretis, yakni Islam kejawen.
Islamisasi merupakan istilah umum yang biasa digunakan untuk menggambarkan proses persebaran Islam di Indonesia pada periode awal (7-13 M). Namun, sampai sekarang islamisasi di Jawa tetap menjadi kontroversi dalam debat historiografi di Indonesia. Sejarah Islamisasi di Jawa bukan sekedar mempertanyakan hal-hal yang telah terjadi di masa lalu, tetapi apa artinya masa lalu bagi masa kini dan masa yang akan datang.
Rumusan Masalah
Bagaimana proses masuknya Islam di Jawa bagian pedalaman?
Apa latar belakang Islam dapat berkembang di Jawa?
Siapa tokoh penyebar Islam di Jawa pedalaman?
Tujuan
Untuk mengetahui proses historis masuknya Islam di Jawa pedalaman
Untuk dijadikan sebagai penambah wawasan keilmuan dan menambah rasa cinta terhadap tanah kelahiran



PEMBAHASAN
Faktor dan Teori Pendukung Masuknya Islam ke Jawa
Secara umum, kata Islam berasal dari kata اسلم-يسلم-اسلام yang berarti kesejahteraan, kebahagiaan. Dari definisi singkat ini, maka setiap muslim secara sikap kemanusiaannya memiliki tanggung jawab untuk memberitahukan tentang ajaran islam kepada orang lain, yang mana islam mengajarkan agar manusia mencari kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Pada masa awal Islamisasi Jawa, yaitu ketika pusat kerajaan Demak di pesisir kemudian beralih ke pusat kerajaan Pajang di pedalaman. Ketika Aryo Panangsang yang didukung Sunan Kudus kalah melawan Pangeran Hadiwijaya yang didukung Sunan Kalijaga, maka mulai saat itulah terjadi rivalitas pesisiran-pedalaman. Namun seiring berjalannya perubahan sosial, budaya, dan politik, maka varian Islam pesisiran dan pedalaman bergeser sedemikian rupa.
Pelaksanaan dakwah membutuhkan waktu, strategi, berkesinambungan, dan kesabaran. Sehingga, untuk membantu meringankan tenaga dan pemikiran harus adanya jalur alternatif atau metode yang digunakan dengan bijaksana. Secara umum, penyebaran islam di indonesia melalui 6 jalur, yaitu :
Perdagangan
Perdagangan merupakan jalur yang sangat menguntukan banyak pihak dan proses islamisasi berjalan dengan damai dan lancar.
Perkawinan
Pernikahan antara pedagang muslim dengan perempuan pribumi merupakan salah satu cara yang digunakan untuk proses Islamisasi, yang mana nantinya ada harapan lahirnya keturunan-keturunan muslim dan membentuk keluarga-keluarga muslim. Islamisasi melalui perkawinan ini juga diperlancar dengan adanya pernikahan antara wanita muslimah dengan para raja atau bangsawan.


Tasawuf
Penyebaran islam tidak bisa dilepaskan dari peran guru-guru tasawuf (sufi). Para sufi menyampaikan ajaran teosofi yang sinkretik. Disampaing itu, para sufi menguasai kebijakan-kebijakan dari berbagai masalah kesehatan ataupun masalah-masalah sosial, politik, ekonomi yang terjadi dalam masyarakat. Sehingga, ajaran islam mudah diterima oleh masyarakat dan mendorong mereka untuk masuk islam dengan hati tanpa adanya paksaan.
Pendidikan
Saluran penyebaran Islam yang efektif untuk membina kader umat Islam, yaitu melalui pendidikan pesantren. Pesantren merupakan tempat pendidikan yang efektif dan terpercaya dari segi keilmuannya.
Kesenian
Penyebaran Islam dipulau Jawa juga menggunakan metode kesenian yang telah berkembang dimasyarakat sebelum Islam datang. Sebagian kesenian itu berasal dari masa Hindu yang kemudian digunakan juga oleh para mubaligh dengan diisi nilai-nilai Islam.
Politik
Adanya penguasa daerah yang masuk Islam sangat membantu kelancaran Islamisasi, dikarenakan para penguasa merupakan orang yang berpengaruh baik itu dari segi perkataan, perbuatan, sikap bagi masyarakat.
Dari ke-enam jalur diatas merupakan jalur-jalur yang digunakan oleh para pendakwah dalam menyebarkan Islam di Indonesia. Adapun mengenai penyebaran Islam di Jawa pedalaman ini dari berbagai sumber belum ada data yang sarih, dikarenakan jalur-jalur yang digunakan oleh para pendakwah ini menggunakan jalur perairan yang mudah dalam interaksi wilayah dan perdagangan internasional. Namun dari hasil pemahaman penulis, bahwa Islam tersebar di Jawa bagian pedalaman ini karena masih ada kaitannya atau kedekatannya dengan wilayah kerajaan dan adanya orang yang menimba ilmu di daerah pesisir dan ditempat Islam lainnya, walaupun hanya beberapa orang yang berpendidikan tapi juga bisa dijadikan sebagai salah satu faktor Islam itu bisa dikenal di Jawa bagian pedalaman.
Bukti valid masuknya Islam di Jawa sampai sekarang masih menimbulkan hasil yang beragam, karena dan yang mengatakan Islam masuk pada abad pertama Hijriyah (7 M, disokong oleh Hamka dengan alasan berita Cina). Bukti dalam bentuk artefak dapat diketahui dengan bentuk makam (batu nisan), masjid, ragam hias, dan tata kota.
Makam
Bukti sejarah yang paling faktual adalah ditemukannya Batu Nisan Fatimah binti Maemun di Leran, Gresik yang berangka tahun 475 H.
Masjid
Sumber sejarah dalam bentuk arkeologi yang berupa bangunan masjid menunjukan adanya komunitas Islam di wilayah tersebut. Dilihat dari corak arsitekturnya, masjid-masjid di Jawa pada garis besarnya beratap tumpang, berdenah persegi, berukuran relatif besar, terdiri atas ruang utama-pawestren-serambi, ruang mihrab, dan sebagainya. Contohnya adalah masjid agung Demak dan terkadang masjid itu dibangun disebelah barat alun-alun.
Ragam Hias
Dengan diterimanya ajaran Islam sebagai panutan hidup yang baru di Jawa, lahirlah beberapa ragam hias baru, yaitu salah satunyan kaligrafi.
Tata Kota
Dalam masa Islam, di Jawa muncul kota-kota baru di wilayah pantai dan pedalaman seperti Demak, Cirebon, Banten, Pajang, dan Kota Gede. Dari data arkeologi yang terkumpul dapat diketahui komponen utama kota-kota tersebut, yaitu kraton, alun-alun, masjid agung, pasar, pemukiman penduduk, pemakaman, serta pertahanan keamanan. Semuanya diatur dalam tata ruang tertentu, yang secara garis besar menunjukan suatu kesamaan.
Adapun teori-teori yang mendukung proses waktu masuknya agama Islam ke Indonesia secara umum ini terdapat 3 teori, yaitu :
Teori Gujarat
Teori Gujarat ini berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad 13 yang dibawa oleh pedagang dari Gujarat (Cambay), India dengan bukti ditemukannya batu nisan Sultan Malik Al-Saleh (sultan Samudra Pasai) tahun 1297.
Teori Makkah
Teori Makkah ini berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7 dan pembawanya berasal dari Mesir dengan bukti penggunaan gelar “Al-Malik” oleh raja-raja kerajaan Samudra Pasai yang merupakan gelar corak dari Mesir.
Teori Persia
Teori ini berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13 dan pembawanya berasal dari Persia (Iran) didasari dari kesamaan budaya Persia dengan budaya masyarakat Islam Indonesia dan juga ditemukannya makam Maulana Malik Ibrohim tahun 1419 di Gresik.
Secara keseluruhan, teori masuknya Islam di Indonesia dimulai dari daerah pesisir, karena pelabuhan merupakan salah satu tempat yang dijadikan sebagai tempat persinggahan dan lebih efisien khususnya dalam perdagangan sekaligus dalam dakwah Islam. Setelah Islam itu berhasil masuk dengan berbagai metode dan teori yang mendukung masuknya Islam ke Jawa, maka barulah Islam itu melakukan langkah-langkah selanjutnya dalam mengenalkan Islam, yaitu dengan proses akulturasi budaya Jawa dan Islam. Dalam proses penyebaran Islam di Jawa terdapat dua pendekatan tentang bagaimana cara yang ditempuh agar nilai-nilai Ialam diserap menjadi bagian dari budaya Jawa. Pendekatan yang peratama disebut dengan Islamisasi kultur Jawa dan yang kedua disebut dengan Jawanisasi Islam.
Hubungan Antara Budaya Jawa dan Islam Dalam Aspek Kepercayaan
Setiap agama dalam arti yang luas tentu memiliki aspek yang fundamental, yakni aspek kepercayaan atau keyakinan, terutama kepercayaan terhadap sesuatu yang sakral, suci, atau yang gaib. Dalam Islam, aspek yang fundamental itu terumuskan dalam istilah aqidah atau keimanan. Sementara itu, dalam budaya Jawa pra-Islam yang bersumberkan dari ajaran Hindu terdapat kepercayaan tentang adanya para dewa, kitab-kitab suci, orang-orang suci, roh-roh jahat, lingkaran penderitaan, hukum karma, dan hidup bahagia yang abadi. Kepercayaan-kepercayaan dari agama Hindu, Budha, maupun kepercayaan animisme dan dinamisme itulah yang dalam proses perkembangan Islam berinterelasi dengan kepercayaan-kepercayaan dalam Islam. Jika melihat sejarah awal perkembangan Islam di Indonesia, ajaran-ajaran Islam yang hadir telah banyak menerima akomodasi budaya lokal. Bila dilihat hubungan antara Islam dengan budaya, paling tidak ada dua hal yang perlu diperjelas, yaitu Islam sebagai konsepsi budaya (great tradition) atau juga bisa disebut dengan tradisi besar dan Islam sebagai realitas budaya (little tradition) atau istilah lainnya adalah tradisi kecil. Tradisi besar Islam yang dimaksud adalah doktrin-doktrin original Islam yang permanen. Sedangkan yang disebut dengan tradisi kecil (lokal) ini adalah kawasan-kawasan yang berada di bawah pengaruh Islam. Tradisi lokal ini mencakup unsur-unsur yang terkandung di dalam pengertian budaya yang meliputi norma, aktifitas, dan karya-karya yang dihasilkan oleh masyarakat.


PENUTUP
Kesimpulan
Islam masuk ke nusantara khususnya ke pulau Jawa dari berbagai sumber sejarawan berbeda pendapat tentang kapan tepatnya Islam itu masuk. Ada yang bependapat Islam masuk pada abad ke 7 dan ada pula yang berpendapat pada abad ke 14. Dari masing-masing pendapat itu dapata dibenarkan dengan jalur dan bukti-bukti yang mendukung pendapat-pendapat mereka. Namun secara umum, Islam masuk ke Indonesia dengan menggunakan 6 jalur, yaitu jalur perdagangan, pernikahan, pendidikan, tasawuf, kesenian, dan politik. Mengenai tersebarnya Islam di Jawa bagian pedalaman ini belum ditemukan bukti yang kuat, hanya saja pandangan dan pemahaman yang bisa para peneliti lakukan, yaitu melihat dari jalur yang digunakan oleh para pendakwah Islam. Tersebarnya Islam tidak lepas dari peran politik yang terjadi di wilayah kerajaan dan para tokoh yang berpengetahuan tentang Islam, sehingga antara Islam pesisiran dan Islam pedalaman itu saling berperan mendukung tersebarnya Islam di nusantara.



Daftar Pustaka
Suhandjati, Sri, Islam dan Kebudayaan Jawa; Revitalisasi Kearifan Lokal, (Semarang: CV. Karya Abadi Jaya, 2015).
Jamil, Abdul, Syukur, Amin, dkk, Islam dan Kebudayaan Jawa, (Yogyakarta: Gama Media, 2000)
Shodiq,  Potret Islam Jawa, (Cet. 3 ; Semarang : Pustaka Zaman, 2013)
Moeslim, Abdurrahman, “Ber-Islam Secara Kultural”, Islam Sebagai Kritik Sosial, (Jakarta: Erlangga, 2003)
Azyumardim, Azra, Konteks Berteologi di Indonesia: Pengalaman Islam, (Jakarta: Paramadina, 1999)
https://serbasejarah-wordpress.com.cdn.ampproject.org/v/s/serbasejarah.wordpress.com/2010/01/10/islam-pesisiran-dan-pedalaman/amp/?

SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI JAWA PEDALAMAN Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Islam dan Budaya Jawa Dosen Pengampu : Sri S...